Inikah Alasan Pabrikan Mobil Listrik Khawatir ‘Sentuh’ Nikel di Indonesia?

Jakarta – Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Namun, mengapa banyak pembuat mobil listrik yang terkesan ‘khawatir’ menanamkan modalnya untuk membuat pabrik? Mungkin ini alasannya.
Larangan ekspor bijih nikel yang diputuskan Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat Indonesia jadi negara yang paling dibutuhkan untuk industri kendaraan listrik saat ini. Sebabnya, logam nikel adalah material murni untuk meningkatkan jangkauan kendaraan listrik. Baterai yang banyak mengandung nikel dapat bertahan lebih lama dibandingkan baterai yang tidak menggunakan bahan tersebut.

Dengan begitu, Jokowi berharap Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini untuk menjadi pemain besar dalam pasar otomotif global.

“Sumber daya alam kita ini pas, pas kita memiliki reserve nikel yang besar, pas ada yang namanya mobil listrik, tapi kesempatan itu hanya muncul biasanya dalam satu peradaban sebuah negara itu hanya sekali,” kata Jokowi pada sambutannya di Pembukaan Rakernas KORPRI bulan Oktober lalu.

Sebagai informasi, menurut laporan dari lembaga penelitian Amerika Serikat, United States Geological Survey (USGS), Indonesia tercatat sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia pada 2022 yakni mencapai 21 juta metrik ton. Kemampuan produksi nikel tercatat sekitar 853 ribu metrik ton nikel pada 2019 dan 760 ribu metrik ton pada tahun 2020. Ini merupakan jumlah produksi terbesar di dunia.

Dengan cadangan nikel yang besar, banyak pabrikan mulai melirik Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listriknya. Meski begitu, nyatanya baru sedikit yang merealisasikan ide tersebut. Hanya Hyundai, Wuling dan Mitsubishi yang sudah diketahui memiliki pabrik di Indonesia.

Jon Emont, Reporter Wall Street Journal untuk Asia Tenggara dalam kunjungannya ke Maluku, mengatakan bahwa salah satu alasan paling logis mengapa banyak pabrikan masih segan membuat pabrik di Indonesia adalah karena faktor alam. Sebagai negara kepulauan, masyarakatnya masih sangat bergantung pada alam untuk kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, jika ada kerusakan pada lingkungan, maka citra perusahaan akan ternodai.

“Tantangan bagi pembuat mobil ketika mempertimbangkan untuk memilah nikel dari Indonesia adalah bahwa pulau-pulau di Indonesia Timur ini masih sangat alami, dikelilingi oleh terumbu karang. Jika ada kebocoran nikel ke terumbu karang, hal tersebut dapat berakibat sangat buruk,” ucap Jon Emont, dikutip Wall Street Journal.

“Jadi hal ini menjadi sedikit rumit bagi perusahaan karena pada akhirnya Indonesia-lah yang menentukan, dan Indonesia mengatakan hal ini tidak masalah, namun jika hal ini tidak masalah bagi Pemerintah Indonesia, apakah itu berarti tidak masalah bagi Tesla? Ini adalah pertanyaan yang menurut saya ditanyakan oleh Tesla,” sambungnya. https://repositoryku.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*