Tunggu Kabar Genting dari Amerika, Harga Emas Jadi Labil

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas di pasar spot dibuka lebih tinggi pada awal perdagangan pagi ini setelah loyo tiga hari beruntun pada perdagangan sebelumnya. Harga emas diperkirakan akan volatile menjelang pengumuman suku bunga di Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Selasa (12/12/2023) harga emas di pasar spot ditutup terkoreksi 0,09% di posisi US$ 1.979,44 per troy ons.

Sementara, hingga pukul 06.50 WIB Rabu (13/12/2023), harga emas di pasar spot bergerak lebih tinggi atau naik 0,15% di posisi US$ 1.982,49 per troy ons.

Indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS)  tercatat melandai  3,1% (year on year/yoy)pada bulan November, dibandingkan pada bulan Oktober sebesar 3,2%, sejalan dengan ekspektasi para ekonom.

Inflasi memang melandai sejalan dengan ekspektasi pasar tetapi analis melihat data tersebut belum cukup mampu untuk membuat bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga. Hal inilah yang membuat pelaku emas kecewa.

“Data inflasi sesuai dengan ekspektasi, namun masyarakat benar-benar perlu melihat penurunan yang kuat untuk memperkuat penurunan suku bunga,” ujar Phillip Streible, kepala strategi pasar Blue Line Futures di Chicago kepada Reuters.

“Emas akan terjebak di antara US$2.050 per troy ons pada sisi positifnya dan US$1.950 per troy ons pada sisi negatifnya. Data ekonomi yang lemah dan ketegangan geopolitik dapat meningkatkan harga,” tambahnya.

Semua perhatian tertuju pelaku emas kini tertuju pada pertemuan The Fed. Bank sentral AS akan mengumumkan kebijakan pada hari ini waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia. 

Perangkat CME FedWatch Tool memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunganya tidak berubah pada minggu ini, dengan 80% peluang penurunan suku bunga sekitar 80% pada Mei 2024.

Suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung emas dengan imbal hasil nol.

“Jika resesi benar-benar terjadi, dolar bisa melemah dan itu akan membantu mendorong harga emas ke level tertinggi baru,” menurut Heraeus Metals dalam proyeksinya untuk tahun 2024. “Emas diperkirakan diperdagangkan antara level US$1.880 hingga US$2.250 per troy ons.”

Indeks dolar AS turun setelah data CPI rilis. Pada perdagangan kemarin Selasa (12/12/2023) indeks dolar AS melemah 0,27% di level 103,42. Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Para pelaku pasar juga akan memantau pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Inggris pada hari Kamis ini.

Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat. Kondisi ini tak menguntungkan emas karena dolar yang menguat membuat emas sulit dibeli sehingga permintaan turun. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.

Namun, suku bunga yang lebih rendah akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melemah, sehingga dapat menurunkan opportunity cost memegang emas. Sehingga emas menjadi lebih menarik untuk dikoleksi. https://berharaplahlagi.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*