Skor Matematika-Membaca Pelajar RI Salah Satu Terendah di Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia – Mutu pendidikan di Indonesia masih terbilang rendah, padahal pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam menunjang mimpi besar Indonesia untuk menjadi negara maju.

Keberadaan pendidikan menjadi vital lantaran diharapkan bisa menghasilkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang hebat, sehingga mendorong produktivitas kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional meningkat.

Masalah terkait kualitas pendidikan ini akan dibawa dalam debat Pilpres 2024 pada Minggu (4/2/2024). Debat kelima akan mengambil tema Kesejahteraan Sosial, Kebudayaan, Pendidikan, Teknologi Informasi, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sumber Daya Manusia, dan Inklusi.

Debat kelima adalah debat terakhir sebelum masa kampanye memasuki masa tenang pada 10 Februari mendatang.

Skor PISA Turun Tajam, Mutu Pendidikan Indonesia Masih Rendah

Sejak 2000, Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) secara konsisten mengadakan penilaian kualitas pendidikan suatu negara melalui Program for International Student Assessment (PISA) untuk mengevaluasi prestasi siswa yang berusia 15 tahun dalam tiga tahun sekali.

Baru-baru ini pada 5 Desember 2023 lalu, OECD melaporkan hasil skor PISA Indonesia periode 2022 yang hasilnya turun cukup dalam. Bahkan, skor literasi membaca Indonesia menjadi yang terendah di antara skor PISA tahun-tahun sebelumnya. Hal ini merefleksikan mutu pendidikan di Tanah Air masih rendah.

Sebagaimana terlihat grafis di atas, penilaian OECD melalui PISA didasarkan pada tiga aspek yakni Matematika, Membaca, dan Sains. Sebagai catatan, survei PISA 2022 seharusnya dilaksanakan pada 2021, akan tetapi ditunda karena pandemi Covid-19.

Pada PISA 2022, penilaian difokuskan pada kemahiran siswa dalam matematika dengan penekanan lebih besar diletakkan pada penalaran matematika. Survei PISA 2022 ini disebutkan merupakan studi ekstensif pertama yang berisi data tentang bagaimana pandemi Covid-19 berdampak pada kinerja siswa di seluruh dunia.

Indonesia juga tak lekang dari dampak pandemi Covid-19 yang membuat skor PISA turun tajam. Pandemi memaksa aktivitas belajar mengajar terhambat, sehingga efektivitas pemahaman materi siswa berkurang.

Kendati skor turun, tetapi Indonesia mencatatkan peningkatan peringkat PISA secara global di posisi ke-66 dari 81 negara pada 2022 atau 15 terendah di dunia. Capaian ini naik dari posisi PISA 2018 yang berada di urutan 72 dari 79 negara yang berpartisipasi.

Menurut riset UNESCO Global Education Monitoring (GEM) 2020 menyatakan bahwa kualitas pendidikan di seluruh dunia memang mengalami pemerosotan yang akibat kekurangan pendanaan lantaran alokasi anggaran digunakan untuk pengentasan Covid-19.

Kualitas pendidikan Indonesia belum membaik signifikan meskipun anggaran pendidikan terus melonjak. Pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp665 triliun atau 20 persen pada APBN 2024.

Sesuai amanat UUD 1945 danUndang-undangnomor20tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan minimal sebesar 20% dari total APBN.

Kebijakan tersebut sudah dimulai sejak 2009.

Sejak tahun tersebut, pemerintah telah melakukan pemenuhan mandatory anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. Anggaran pendidikan pun bengkak 206,8% dari Rp 216,72 triliun pada 2010 menjadi Rp 665 triliun pada 2024.

Imbas Mutu Pendidikan Rendah, Kualitas Tenaga Kerja Masih Lemah

Kualitas pendidikan yang rendah ini kemudian berimbas pada partisipasi SDM di pasar tenaga kerja masih lemah. Pasalnya, angkatan kerja di Tanah Air masih didominasi masyarakat berpendidikan rendah, akan tetapi tingkat pengangguran dari lulusan universitas naik dikala jumlah pengangguran nasional turun.

World Competitiveness Yearbook (WCY) pada 2020 menempatkan daya saing SDM Indonesia pada peringkat 40 dari 63 negara dalam hasil survei mereka. Indonesia turun delapan peringkat dari tahun sebelumnya.

Bank Dunia juga menghitung Human Capital Index (HCI) untuk melihat sejauh mana peran pendidikan dan kesehatan terhadap produktivitas ke depannya. Pada tahun 2020, HCI Indonesia sebesar 0,54, berada pada peringkat 96 dari 175 negara.

Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Agustus 2023 angkatan kerja paling banyak berasal dari penduduk yang berpendidikan tingkat dasar, mencapai 52,41%.

Di sisi lain, pada periode yang sama jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,86 juta orang, turun sekitar 560.000 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan kondisi Februari 2023 juga terjadi penurunan sekitar 130.000 orang.

Penurunan pengangguran ini sebenarnya menjadi kabar gembira karena yang menunjukkan pemulihan ekonomi pasca pandemi. Namun, sayangnya hal tersebut tidak disertai penyerapan tenaga kerja dari kalangan pendidikan tinggi.

Kontributor utama penurunan pengangguran lebih banyak masih disumbang segmen pendidikan dasar (SD/SMP sederajat) dan tingkat menengah (SMA/SMK) yang sama-sama menyusut. Kontras dengan itu, tingkat pengangguran lulusan universitas atau setara D3 ke atas malah mengalami kenaikan dari 4,76% menjadi 5,10%.

Ekonomi yang semakin pulih setelah diterpa pandemi Covid-19 malah membuat sarjana makin sulit dapat pekerjaan. Bila ditelisik lagi, penduduk usia muda dari rentang 15 – 24 tahun, data BPS menunjukkan tingkat pengangguran cukup tinggi, mencapai 19,40%. Jika diibaratkan dari 100 orang angkatan bekerja usia muda, ada 19 diantaranya yang menganggur.

Pendidikan yang tinggi biasanya berkorelasi dengan potensi peningkatan pendapatan seseorang. Jadinya seharusnya, semakin tinggi pendidikan seseorang, maka peluang mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih tinggi meningkat. Namun, mirisnya yang terjadi saat ini malah sebaliknya.

Dominasi masyarakat bekerja dengan pendidikan rendah ini lebih rentan mendapatkan penghasilan yang kurang layak, ini bisa berimbas pada kemiskinan yang membuat masyarakat sulit mencapai kesejahteraan. https://sayurkana.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*